Sabtu, 30 Oktober 2021

MATANYA KOK TERPEJAM?

Aku selalu mendampingi anakku latihan panahan dilakukan hampir setiap hari.  Aku selalu menekankan kepada anakku untuk memanah dengan teknik yang benar dan konsisten.  Memanah jangan mengejar perkenaan anak panah di target, karena perkenaan anak panah adalah hasil dari teknik yang benar dan konsisten.

Selama sepekan ini, aku minta anakku kembali memanah dengan jarak yang lebih pendek, yaitu di jarak 10 meter.  Aku ingin dia lebih fokus kepada teknik dan lebih memperhatikan hal-hal kecil yang sering dilakukan di saat memanah.  Kebetulan latihan ini kami lakukan di samping rumah, sehingga beberapa tetangga ikut memperhatikan.  Mereka ikut memperhatikan semua hal yang dilakukan anakku saat latihan, hingga salah seorang dari mereka nyeletuk, "Kok matanya terpejam?".

Di jarak 10 meter ini, aku memang meminta anakku untuk melakukan blind shoot.  Latihan ini menurutku dilakukan agar pemanah lebih merasakan otot-otot yang bekerja saat melakukan panahan terutama di saat melakukan pergerakan otot belikat (ekspansi) dan pengendalian lengan yang memegang busur (bow hand).  Di saat mata terpejam tersebut, aku berharap anakku dapat merasakan otot-otot yang bekerja, mulai dari otot bahu, otot belikat, otot lengan, dan lainnya.  Seandainya dia dapat mengendalikan pergerakan otot-otot tersebut dengan baik, seharusnya tembakan yang dihasilkan pasti juga lebih baik.

Terus terang aku tidak tahu metode ini apakah dilakukan oleh para pemanah profesional.  Aku hanya menggunakan logika bahwa hasil tembakan yang lebih baik saat dilakukan dengan mata terpejam, menunjukkan bahwa pemanah telah mampu mengendalikan teknik dan konsentrasi di saat memanah.

Jumat, 29 Oktober 2021

ANDAI KITA TAHU SEJAK LAMA

Karya : SY Adillah Murni (12 Februari 2020)


Duhai semesta
Aku berhenti berharap pada manusia
Lalu aku memperpanjang masa kala merapal doa

Aku berhenti mengejar harta
Lalu berbalik arah mencipta bahagia
Aku berhenti hidup untuk pembuktian
Lalu aku menikmati hidup bagai sebuah perjalanan.

Aku berhenti percaya
Lalu berhenti pula kecewa
Sesederhana itu ternyata duhai semesta
Andai ku tahu ilmu ini dari lama
Maka ku yakin luka luka di hati manusia tak akan pernah tercipta 

PRIA DICIPTAKAN UNTUK BERJUANG DAN BERKORBAN

oleh : Samin Barkah, Lc., M.E. (Sumber : Buletin Jumat Al Bina; edisi : 172/2018 M)


"Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya.  Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya" [QS. An-Nisaa : 175]

Segala sesuatu selalu diciptakan berpasang-pasangan.  Inna khalqnakum min dzakarin wa untsa waja'alnakum syuuban wa qabaila lita'arafu ...

Pada abad ke-19 yang lalu ilmuwa Inggris, Paul Dirac mempopulerkan istilah "parite" dan untuk itu dia memperoleh hadiah Nobel di bidang fisika.

"Parite" adalah istilah yang bermakna bahwa seluruh benda yang ada di alam semesta sampai partikel yang kecil tak terlihat kasat mata, ternyata mempunyai pasangannya.

Berabad-abad sebelum Paul Dirac melakukan riset dan menyimpulkan demikian, Allah telah memberitahukan Nabi kita melalui firman-Nya, "Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah" [QS. Adz-Zaariyat : 49]

Malam berpasangan dengan siang, hitam dengan putih, baik dengan buruk, tinggi dengan rendah, laki-laki dengan perempuan, ganjil dengan genap.  Segala sesuatu pasti ada pasangannya.

Adakah sesuatu yang tidak berpasangan di dunia ini?

Dalam konteks nilai suatu pasangan, tidak selalu bermakna antagonis.  Seperti baik dengan buruk, siang dengan malam, atau mancung dengan pesek, dan lain-lain.

Banyak bentuk pasangan yang bukan antagonis antara satu dengan pasangannya, tapi lebih kepada saling melengkapi untuk menjadi  keharmonisan.

Hal itu dapat kita lihat pada pasangan genap dan ganjil, istimewa dengan sempurna, demikian seterusnya.  Pasangan tidak selalu bermakna antagonis, satu positif dan satunya negatif, tetapi lebih kepada makna saling melengkapi untuk menjadi keharmonisan.

Pemahaman ini perlu diperjelas dulu sebelum kita melanjutkan bahasan kita tentang tema di atas.

Ketika kita menggunakan kata "wanita" bukan "perempuan", atau perempuan, tidak wanita, maka sementara ini kita pahami saja dulu bahwa semua kata mempunyai makna sesuai konteksnya, tanpa harus menggugurkan yang lain.  Biarlah semuanya menjadi kosa kata dan khazanah kata kita.

Ketika kita ingin mengelompokkan antar pasangan dan hubungan antara satu dengan lainnya, baik hubungan sinonim atau hubungan antonim, maka kita dapat mengelompokkan genap dengan sempurna dan mengelompokkan ganjil dengan istimewa atau unik.

Allah menciptakan bumi lebih dahulu sebelum pria (Adam) diciptakan, kemudian Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuknya dan Hawa menjadi pasangan hidupnya yang menetap di surga.  Pasangan laki-laki dengan perempuan atau pria dan wanita.  Bumi yang dihuni lebih dari 6,3 milyar orang, kemudian menjadi hamparan yang disiapkan untuk manusia setelah Allah keluarkan dari surga akibat melanggar perintah Allah.  Setelah diterima tobatnya Adam dan Hawa, mereka ditempatkan di bumi yang terhampar luar hingga akhirnya pasangan tersebut Allah pertemukan kembali dan kemudian berketurunan dan menjadi nenek moyang seluruh manusia tanpa kecuali.

Nalar kita mengatakan bahwa Hawa tercipta dari salah satu rusuk Adam yang paling bengkok, maka jumlah rusuk Adam menjadi ganjil dibanding dengan jumlah rusuk Hawa yang masih sempurna jumlahnya.  Kesempurnaan jumlah rusuk ini dapat kita anonimkan dengan jumlah yang genap.  Sementara jumlah rusuk Adam yang sudah berkurang, maka kita dapat anonimkan dengan ganjil.  Dengan jumlah tulang rusuk dengan ganjil ini, pria tetap memiliki keistimewaan dibandingkan dengan wanita.

Wanita yang sempurna jumlah tulang rusuknya menjadi makhluk yang eksis dengan segala kesempurnaan penciptaan.  Kesempurnaan fisik wanita mengundang para penyair dan sastrawan mengungkapkan pujiannya terhadap wanita.  Ribuan bahkan mungkin jutaan baik syair dibuat untuk memuji dan mengekspresikan nilai kesempurnaan seorang wanita.

Belum lagi para seniman yang selalu menjadikan wanita sebagai obyek karya seninya (terlepas dari etika, moral, dan adab).  Ribuan karya sastra lahir dari para sastrawan sebagai ekspresi atas kesempurnaan wanita sebagai makhluk ciptaan Allah.

Pria tercipta dengan kegagahan dan keperkasaan.  Pria diciptakan untuk berjuang demi keluarga.  Ia berjuang untuk masyarakatnya.  Berjuang untuk bangsanya.  Dia juga berjuang untuk agamanya.  Dialah laki-laki yang tercipta untuk berjuang dan untuk berkorban.  Suatu penciptaan yang unik dan istimewa, hingga para malaikat diperintahkan Allah untuk bersujud menghormatinya.  Ciptaan, pria inilah yang menjadi pasangan wanita.  Wanita yang tercipta dengan segala kesempurnaannya.  Yang sempurna berpasangan dengan sosok yang Allah istimewakan karena beban dan amanah yang berani dipikul dan diemban di alam dunia ini.  Mengalahkan makhluk Allah yang lain, meski Allah selalu mengingatkan Allah bahwa dia adalah makhluk yang berpotensi berbuat kezhaliman dan kebodohan.  Itulah yang keistimewaan dan keunikan pria.

Perjuangan dan pengorbanan laki-laki menimbulkan kekaguman kaum wanita.  Kekaguman ini akan menjadi lebih besar ketika didukung dengan postur tubuhnya.  Puluhan, ratusan, bahkan ribuan wanita mengidolakan pahlawannya.

Mengidolakan pria, sang pahlawan.  Dialah laki-laki yang berjuang dan berkorban bukan untuk siapa-siapa.  Lelaki berjuang untuk kebahagiaan keluarga.  Ia berjuang dan berkorban untuk bangsanya.

Pria diciptakan Allah untuk berjuang dan berkorban.  Di atas pundaknya Allah mewajibkan jihad melawan musuh-musuhnya.  Jangan tanyakan tentang keikhlasan padanya.  Tidak ada makhluk yang paling ikhlas dalam memberi selain dari kaum lelaki.  Inilah keunikan dan keistimewaannya.

Karena fitrahnya ganjil dan itu adalah bentuk dari pengorbanan laki-laki bagi hidup dan kehidupannya.  Secara fitrah, laki-laki siap untuk berkorban, dengan memberikan sesuatu yang ia miliki.  Fitrah telah mengajarkannya demikian.  Jadi jangan tanyakan tentang ketulusan, karena laki-laki lebih tulus dibanding perempuan ketika memberi.  Di sisi lain, ruang kosong pada penciptaannya menjadikan dia makhluk yang lemah.  Allah menyebutnya dengan sebutan "kabad".  "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah" [QS. Al-Balad : 4]

Manusia juga disifati dengan sifat "halu'a".  "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir" [QS. A;-Maarij : 19]

Bandingkan dengan wanita ketika memberi.  Seberapa besar keikhlasan dan ketulusannya?  Jangan menuntut lebih pada wanita untuk melakukan seperti yang dilakukan pria dalam hal memberi, berjuang, dan berkorban.  Wanita tidak dapat melupakan kebaikan dan pengorbanan yang pernah ia lakukan.  Wanita tidak dapat melupakan jumlah uang yang ia pinjamkan, bahkan mungkin kepada suaminya.  Karena wanita memang diciptakan bukan untuk memberi dan berkorban untuk pria, kecuali alasan cinta yang mampu mengubahnya.

Laki-laki mempunyai tempat yang istimewa di hati istrinya.  Maju mundurnya kehidupan ada pada pundaknya lelaki.

Emosi dan ketahanan wanita relatif lebih baik dibandingkan laki-laki.  Fisiknya menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah, simetris dan proporsional dalam kadar yang relatif yang banyak dibandingkan pria.  Dia diciptakan untuk menenangkan laki-laki.

Menenangkan suaminya, menenangkan anak-anaknya, bahkan menenangkan ayahnya.  Ingatlah sirah Nabi Muhammad saw., ketika Fatimah menghibur dan menenangkan ayahnya, Nabi Muhammad saw. saat membersihkan kotoran yang dilemparkan kaum Quraisy kepadaa Nabi Muhammad sambil menangis.  Tangisan yang mampu menghibur dan menenangkan baginda Nabi Muhammad saw.

Lelaki selalu ingin berpetualang seakan ingin mencari tulang rusuknya yang hilang.  Mencari pasangan untuk ketenangan hidupnya.  Tuntutan alam yang menjadikan laki-laki senang berpetualang dan menantang bahaya agar dirinya eksis sebagai tulang punggung kehidupan.  Tulang punggung keluarga, bahkan menjadi tulang punggung negara yang siap maju di medan pertempuran membela dan mempertahankan kehormatan bangsa dan agama.

Dia menjadi kuat dan perkasa, semakin istimewa di hati istrinya atau para pengagum rahasia yang menanti takdir mungkin menyatukannya.

Ruang kosong pada jiwa manusia lebih ditemukan pada laki-laki dibandingkan pada wanita.  Jangan sampai lelaki mengalami kesedihan, karena sedih akan membawanya kepada kegundahan dan kelemahannya akan menghancurkannya.

Wanita relatif lebih kuat dalam konteks menjadi sumber kehidupan dan melahirkan kehidupan.  Darinya manusia berkembang biak dan darinya manusia dibina dan dididik untuk melanjutkan semangat perjuangan orang tuanya.  Dia sempurna untuk melakukan tugas mulia itu, menjadi madrasatul ummah, menjadi sekolah bangsa.

Bahkan dalam posisi single parent pun, wanita relatif lebih berhasil dibandingkan dengan pria.

Wallahu a'lam bishshawwab

Sabtu, 23 Oktober 2021

DUNIA ITU HANYA KEPERLUAN

oleh : Dr. Amir Fasihol Fath


"Dan carilah (kebahagiaan) akhirat, yang telah Allah sediakan untukmu, tapi jangan lupa bahagiaanmu dari kenikmatan dunia" [QS. Al Qashash ; 77]

Lalu, apa arti kita hidup di dunia?  Dunia tempat kita mempersiapkan diri untuk akhirat.  Sebagai tempat persiapan, dunia pasti akan kita tinggalkan.  Ibarat terminal, kita transit di dalamnya sejenak, sampai waktu yang ditentukan, setelah itu kita tinggalkan dan melanjutkan perjalanan lagi.  Allah berfirman dalam Al Quran bahwa dunia itu bukan tujuan.  Mari kita simak ayat ini : "Dan carilah (kebahagiaan) akhirat, yang telah Allah sediakan untukmu, tapi jangan lupa bahagianmy dari kenikmatan dunia" [QS. Al Qashash : 77]

Di sini terlihat dengan jelas bahwa yang harus kita kejar adalah kebahagiaan hidup akhirat.  Mengapa? karena di sanalah kehidupan abadi.  Tidak ada mati lagi setelah itu.  Karenanya dalam ayat yang lain Allah berfirman, "winnad daarul aakhirata lahiya alhayawanu" (dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya) [QS. Al Ankabut : 64]

Lalu, apa arti kita hidup di dunia?  Dunia tempat kita mempersiapkan diri untuk akhirat.  Sebagai tempat persiapan, dunia pasti akan kita tinggalkan.  Ibarat terminal, kita transit di dalamnya sejenak, sampai waktu yang ditentukan, setelah itu kita tinggalkan dan melanjutkan perjalanan lagi.  Bila demikian tabiat dunia, mengapa kita terlalu banyak menyita hidup kita untuk keperluan dunia?  Diakui atau tidak, dari 24 jam jatah usia kita dalam sehari, bisa dikatakan hanya beberapa persen saja yang kita gunakan untuk persiapan akhirat.  selebihnya bisa dipastikan terkuras habus oleh kegiatan yang berputar-putar di sekitar dunia.  Coba kita ingat nikmat Allah yang tak terhingga, setiap saat mengalir dalam tubuh kita.  Tapi mengapa kita lalaikan itu semua.  Detakan jantung tidak pernah berhenti.  Kedipan mati yang tak terhitung berapa kali dalam sehari, selalu kita nikmati.  Tapi kita sengaja atau tidak selalu melupakan hal itu.  Kita sering mudah berterima kasih kepada orang yang berjasa kepada kita, sementara kepada Allah yang senantiasa memanja kita dengann nikmat-nikmat-Nya, kita sering kali memalingkan ingatan.  Akibatnya kita pasti akan lupa akhirat.

Dari sini dunia akan selalu menghabiskan waktu kita.  Orang-orang bijak mengatakan bahwa dunia ini hanyalah keperluan, ibarat WC dan kamar mandi dalam sebuah rumah, ia dibangun semata sebagai keperluan.  Karenanya siapapun dari penghuni rumah itu akan mendatangi WC atau kamar mandi jika perlu, setelah itu ditinggalkan.  Maka sungguh sangat aneh bila ada seorang yang diam di WC sepanjang hari dan menjadikannya sebagai tujuan utama dari dibangunnya rumah itu.

Begitu juga sungguh sebenarnya sangat tidak wajar bila manusia sibuk mengurus dunia sepanjang hari dan menjadikannya sebagai tujuan hidup.  Sementara akhirat dikesampingkan.  Namun kita kita memang sedang berada di sebuah zaman yang terbalik.  Keperluan dijadikan tujuan dan tujuan bukan hanya dijadikan keperluan, bahkan tidak diperlukan lagi.  Orang-orang yang sibuk mengurus akhirat menjadi aneh.  Dan orang-orang yang sibuk mengurus dunia dibanggakan.  Bahkan berperang pun dengan menghanguskan sekian jumlah manusia uintuk kepentingan dunia senantiasa dilakukan.  Seakan dunia segala-galanya.

Keterbalikan ini juga terlihat di berbagai segi kehidupan.  Laki-laki bergaya seperti wanita dan wanita bergaya seperti laki-laki.  Siang dijadikan malam, dan malam dijadikan siang.  Orang yang belajar agama merusak agamanya, dan orang yang belajar pada jurusan umum justru berusaha mengamalkan agama.  Dari sini kerancuan definisi dunia dan akhirat.

Kini orang-orang banyak yang tidak bangga jika anaknya rajin ke masjid, pandai mengaji, dan aktif di majlis taklim.  Mereka bangga bila anaknya sekolah di Amerika, menjadi bankir dan lain sebagainya.  Bahkan mereka merasa pesimis terhadap masa depan anaknya jika mereka mondok di sebuah pesantren atau masuk jurusan agama di universitas tertentu.  Akibatnya berduyun-duyunlah mereka menuju universitas umum, dengan harapan nanti mereka akan mudah untuk mendapatkan pekerjaan.  Padahal semuanya itu kalau mau disadari secara mendalam, sungguh sangat tergantung kepada takdir.

Dalam sebuah perjalanan kembali dari Bogor, menuju Jakarta, di sebuah kereta api, saya bertemu dengan seorang ibu.   Ibu itu dengan nada sedih dan penuh pengharapan bercerita bahwa tiga orang anaknya telah sarjana.  Satunya sarjana di bidang akuntan, lainnya, di bidang komunikasi, dan satunya lagidi bidang sosiologi.  Tapi sedihnya, -- kata ibu itu melanjutkan ceritanya -- bahwa sampai sekarang ketiga anak tersebut masih bingung mencari pekerjaan.  Di sana-sini ribuan orang ngantri melamar kerja.  Begitu panjangnya antrian itu, sampai berdesak-desakanm sikut-menyikut, sogok-menyogok, jilat-menjilat, dan seterusnya.  Sungguh dunia memang perangkap, maka makin banyak manusia yang tertipu.  Ya, sadarilah wahai saudaraku, bahwa dunia itu hanyalah keperluan.  Mengapa harus menghabiskan waktu sedemikian banyaknya berlebih-lebihan mengejar keperluan, sapai harus saling membunuh dan berperang? sedangkan tujuan kita lupakan.  Ingatlah bahwa akhirat adalah tujuan kita yang hakiki.  Jalan kita di dunia akan terbuka lempang bila kita selalu ingat tujuan hakiki kita.

Wallahu a'lam 

Jumat, 22 Oktober 2021

BIDAN DI DESA

Karya : Dewi Mustika Sari (7 Mei 2010)


Tanpa lelah kau bekerja
Siang dan malam
Kau hadapi penuh dengan kesabaran
Dan keikhlasan

Cobaan yang datang kau jadikan kawan
Kau tetap tegar bagai batu karang di lautan
Hujan dan badai kau hadapi
Lautan luas pun kau seberangi

Demi mencapi cita-cita
Dan masa depan yang hakiki
Mengabdi pada ibu pertiwi
Hingga ajal tiba nanti
| 

Minggu, 17 Oktober 2021

APA BEDA KAMI DENGAN MEREKA

Jam kantor suatu institusi pemerintahan setahuku adalah dimulai pukul 07.30 hingga pukul 16.00.  Di sela waktu tersebut di antara pukul 12.00 – 13.00 terdapat aturan tak tertulis untuk melakukan ibadah siang dan makan siang, yang biasanya waktu tersebut digunakan untuk pulang ke rumah, istirahat.

Aku kebetulan mendapat tugas di suatu unit yang memberikan pelayanan.  Pelayanan yang kami berikan dibagi ke dalam 2 sub unit dengan waktu pelayanan yang berbeda, yaitu sub unit pertama memberikan pelayanan mulai sekitar pukul 00.00 hingga pagi hari sekitar pukul 10.00, sedang unit kedua pelayanan diberikan mulai pukul 13.00 hingga sekitar pukul 19.00 di malam hari.  Aku bersama staf administrasi bertugas sesuai kantor induk, yaitu mulai pukul 07.30 hingga pukul 16.00.

Selama masa pandemi Covid 19, sebagian besar kegiatan perkantoran mengalami perubahan jam kerja atau bahkan menerapkan Sistem Bekerja dari Rumah (Work From Home = WFH).  Hal ini sangat berbeda dengan kami.  Kami tidak dapat melaksanakan Sistem WFH, karena pengawasan atas pelayanan yang kami berikan tidak ada hari libur.  Kami akan libur apabila pasar juga libur, karena produk atas pelayanan yang berikan menyangkut kepada hajad hidup orang banyak.

Kondisi pandemi Covid 19 sebenarnya sama sekali tidak mempengaruhi jam kerja kami.  Sebelum Covid 19 melanda, kami pun tetap melaksanakan tugas kami di saat teman-teman di kantor induk dan sebagian besar teman yang lain telah menikmati Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri.  Kami pada saat itu bahkan bertugas lebih berat dari hari-hari biasa.  Malam hari pun kami tetap bertugas, demi memberikan pelayanan yang baik.

Suatu pagi, aku meninggalkan rumah sekitar pukul 08.00.  Waktu berangkat yang terhitung agak lambat, karena aku berencana singgah di kantor induk untuk beberapa urusan.  Tak sampai 5 menit, aku telah sampai di kantor induk, karena rumahku memang tidak seberapa jauh dari kantor induk, sedang kantor tempat aku bertugas berjarak sekitar 7 km dari rumah.

Di kantor induk, aku perhatikan beberapa ruangan masih terlihat kosong karena stafnya belum hadir, bahkan ada ruangan yang masih berkunci.  Ini khan aneh ...  Jam kerja kita khan tidak mengalami perubahan.  Kita masih menggunakan jam kerja yang sama dengan jam kerja sebelum pandemi.  Aku berpikir, pada jam segitu seharusnya 75% staf kantor sudah berada di kantor.

Pada kesempatan lain, sekitar pukul 14.45 aku meninggalkan kantorku untuk menuju ke kantor induk, ada beberapa urusan dengan salah satu bagian di kantor induk.  Perhitunganku sekitar pukul 15.00 aku telah sampai kantor induk dan setelah selesai urusan sekitar pukul 16.00 dapat langsung pulang ke rumah.  Tetapi apa yang kudapati di sana?  Satu sisi gerbang kantor telah ditutup dan kantor terlihat sepi.  Aku pikir, mungkin ini karena adanya pandemi Covid 19 sehingga perlu dilakukan pembatasan lalu lintas tamu di kantor.  Di teras kantor, aku bertemu dengan penjaga kantor yang sedang menyapu teras dan berkata, bahwa kantor sudah tutup karena operasional hanya setengah hari.

Aku tak habis pikir, kenapa operasional kantor menjadi hanya setengah hari?  Level PPKM daerah kami khan sudah turun dari PPKM Level 4 menjadi PPKM Level 3, tapi operasional kantor kok malas seperti ini?  Masih belum cukup kah kenikmatan yang mereka peroleh selama ini?  Di saat mereka menikmati Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri, kami masih bertugas bahkan hingga malam hari.  Di tengah pandemi pada level PPKM berapa pun kami masih tetap bertugas seperti biasa, di saat itu mereka mendapat nikmat dengan WFH mulai dari 25% bahkan hingga 100%.  Di saat mereka refreshing dalam bungkus tugas dinas ke lokasi dan mendapat penghasilan tambahan dari kegiatan tersebut, kami tidak mendapat tambahan penghasilan apa pun bahkan sering kami mengeluarkan uang pribadi untuk hal-hal yang tak terduga demi pelayanan yang kami berikan.

Kami tidak iri, tapi andaikan kami iri pun rasanya sangat manusiawi.  Kami hanya mengingatkan tugas kita masing-masing, bahwa tugas kita adalah memberikan pelayanan.  Kami adalah bagian dari masyarakat yang kalian harus layani.  Posisi kita di sini sebenarnya sama.  Kita punya aturan jam kerja yang sama, jadi kalau kami datang ke kantor induk dengan harapan dapat berurusan tetapi gagal karena “Jam Kantor Kalian Hanya Setengah Hari” rasanya lumrah kalau kami menjadi kecewa. 

Sabtu, 16 Oktober 2021

CINTA ?

Karya : SY Adillah Murni


Tertatuh aku dalam perih
Terisak aku dalam sesak
Entah apa namanya
Entah apa sebutannya
Kurasa hanya sakit dan nestapa

Orang bilang cinta itu indah
Dari sisi mana?
Kulalui banyak perih
Hingga tak mampu membuka hati
Terlalu banyak kecewa
Hingga tak mau percaya lagi

Bodoh namanya, bila tahu takkan berujung bahagia
Tapi tetap memaksa
Buang waktu jika memberi harap
Pada orang yang nyata pencipta luka?

Orang yang paling kau cinta
Orang yang menusuk dan mengoyakmu
Orang yang paling membuatmu bahagia kelak
Orang yang paling kau hindari nanti

Memang begitu peredarannya
Kututup hatiku
Dari segala harap, percaya, atau cinta

Ketahuilah
Aku pernah begitu mencinta
Akhirnya dibuat kecewa
Terluka begitu hebat


BUKAN PERKARA GELAR

Karya :  SY Adillah M  (11 September 2023) berkuliah memang bukan suatu hal yang mewah tapi bagi beberapa orang, termasuk saya mampu merasak...